Minggu waktunya bersih - bersih, semua buku yang tertumpuk di rak selama hampir sepuluh tahun kubongkar lagi dengan harapan mendapatkan satu dua buku statistik yang bisa kupakai kuliah di MMUI nanti. "...Wah ketemu.." sontakku setengah teriak, tidak dinyana saya malah menemukan catatan kecil yang berisi puluhan puisi - puisi yang agak sentimentil ketika kuliah dulu. Catatan ajaib yang sempat hilang dari rengkuhanku sejak tahun 1997.
Isinya agak sentimentil, seperti puisi "APALAH AKU" yang saya buat menjelang praktikum biologi dasar. Puisi ini seingat saya dibuat saat melihat mahasiswa yang tergolong "the have" duduk di sebelahku sambil membicarakan berbagai fasilitas mewah dari orang tuanya.
Ironisnya waktu itu saya setengah mati menahan lapar, karena gak punya uang cukup untuk makan siang, dan kalau dipaksakan makan siang artinya saya tidak bisa pulang ke Bekasi.
Maklum masa kuliah S1 dulu, untuk makan dan kuliah saja, saya harus menjual susu kaleng, jadi kondektur, jualan disket pokoknya apapun yang namanya basic survival tobe barchelor lah ... kehidupan yang prihatin tapi menyenangkan kalau dikenang.
==============================================
Isinya agak sentimentil, seperti puisi "APALAH AKU" yang saya buat menjelang praktikum biologi dasar. Puisi ini seingat saya dibuat saat melihat mahasiswa yang tergolong "the have" duduk di sebelahku sambil membicarakan berbagai fasilitas mewah dari orang tuanya.
Ironisnya waktu itu saya setengah mati menahan lapar, karena gak punya uang cukup untuk makan siang, dan kalau dipaksakan makan siang artinya saya tidak bisa pulang ke Bekasi.
Maklum masa kuliah S1 dulu, untuk makan dan kuliah saja, saya harus menjual susu kaleng, jadi kondektur, jualan disket pokoknya apapun yang namanya basic survival tobe barchelor lah ... kehidupan yang prihatin tapi menyenangkan kalau dikenang.
==============================================
Tertutup kerindangan ribuan kanopi alam ini
Terdiam tanpa sepatah kata
Apalah aku, semata benih jati yang terbenam
Tersembunyi dalam pekatnya serasah
Kelam di selubungi ketidakberdayaan
Kelam di selubungi ketidakberdayaan
Sosokku nyaris tanpa arti
Tapi masaku nanti...
Saat cangkang ini punah sudah
Akarku kokoh menghujam
Tubuhku menopang buana
Daunku merengkuh semesta
Akankah kau menyapaku, SAUDARA..."
(Lab Biologi, Kampus IPB Baranangsiang - 19 Okt. 1994)
===============================================
(Bekasi, 10 Agt. 2008)


0 pendapat:
Post a Comment